MITRAPOL-ID- JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti terus memperkuat langkah strategis dalam mengembangkan komoditas sagu sebagai salah satu sektor unggulan penopang perekonomian daerah. Tidak sekadar mempertahankan predikat sebagai daerah penghasil sagu, kini Meranti mulai membidik peluang lebih besar melalui penguatan industri hilir, investasi, hingga perluasan pasar ekspor ke mancanegara.
Komitmen tersebut ditunjukkan Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn.) H. Asmar, saat menghadiri Sagu Business Forum 2026 yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia di Aula Gedung Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Kehadiran Bupati Asmar dalam forum strategis tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti membuka ruang komunikasi dan kerja sama dengan pemerintah pusat, investor, pelaku industri, serta mitra perdagangan internasional, khususnya dari Jepang.
Forum tersebut turut dihadiri Menteri Perindustrian RI Muhammad Sarmuji, Konselor Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Keisuke Hosonuma, perwakilan Japan External Trade Organization (JETRO), Jakarta Japan Club (JJC), serta sejumlah asosiasi industri, akademisi, peneliti dan pelaku usaha sagu dari Indonesia maupun Jepang.
Bupati Asmar hadir didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Meranti Marwan, Sekretaris Mifta, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sukri, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Yusran, serta perwakilan Bappeda Meranti, Robert.
Dalam kesempatan tersebut, Asmar menegaskan bahwa sagu merupakan kekuatan ekonomi strategis yang dimiliki Kepulauan Meranti. Potensi besar tersebut harus dikelola secara lebih progresif melalui peningkatan kapasitas industri pengolahan, penciptaan produk bernilai tambah, serta perluasan jaringan pemasaran hingga menembus pasar global.
Menurutnya, selama ini sagu telah menjadi bagian penting dari kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat Meranti. Karena itu, pengembangannya tidak boleh berhenti pada penjualan bahan baku, melainkan harus diarahkan pada penguatan industri yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, kita mendapat banyak dorongan dan arahan langsung dari Bapak Menteri. Beliau juga berkesempatan mengunjungi stan Meranti dan memberikan apresiasi terhadap apa yang telah kita lakukan dalam mengembangkan potensi sagu,” ujar Asmar.
Tidak hanya memperkenalkan produk unggulan daerah, Bupati Asmar juga memanfaatkan forum tersebut untuk membangun komunikasi dengan sejumlah pengusaha, termasuk pelaku usaha dari Jepang, guna menjajaki peluang investasi, kerja sama perdagangan dan pengembangan pemasaran produk sagu Meranti.
Ia menilai Jepang merupakan salah satu pasar potensial yang perlu terus dibidik, mengingat negara tersebut telah menjadi salah satu tujuan ekspor pati sagu Indonesia.
“Kita sudah berkomunikasi dengan beberapa pengusaha dari luar Meranti. Harapan kita, bagaimana sagu Meranti ke depan bisa diekspor langsung ke luar negeri, sekaligus menarik investor untuk berinvestasi dan menjalin kerja sama dalam pengembangan serta pemasaran sagu,” jelasnya.
Asmar berharap, komunikasi yang telah dibangun dalam forum tersebut dapat ditindaklanjuti secara konkret. Dengan demikian, Kepulauan Meranti tidak hanya dikenal sebagai sentra penghasil bahan baku sagu, tetapi juga mampu berkembang menjadi daerah yang memiliki kekuatan industri pengolahan dan akses ekspor secara mandiri.
Ia juga menegaskan bahwa terbukanya investasi dan pasar internasional diharapkan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah komoditas sagu, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan usaha masyarakat, hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sementara itu, Menteri Perindustrian RI Muhammad Sarmuji menilai Kepulauan Meranti memiliki potensi sumber daya sagu yang sangat besar dan dapat mengambil peran penting dalam pengembangan industri sagu nasional.
Menurutnya, ketersediaan bahan baku yang melimpah serta tradisi pengolahan sagu yang telah berkembang di tengah masyarakat merupakan modal penting untuk memperkuat rantai industri, mulai dari sektor produksi, pengolahan hingga pemasaran.
Ia menegaskan, pengembangan dan hilirisasi sagu harus terus diperkuat agar komoditas tersebut mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi, sekaligus mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
“Sagu merupakan salah satu keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia. Potensinya sangat besar dan harus kita dorong agar menjadi keunggulan kompetitif melalui pengembangan industri, riset, inovasi, dan hilirisasi,” ujarnya.
Sarmuji menjelaskan, pemanfaatan sagu memiliki peluang yang sangat luas. Selain sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras, sagu dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan seperti mi, beras analog, pasta, biskuit dan produk pangan lainnya.
Bahkan, pemanfaatannya juga terbuka untuk sektor nonpangan, termasuk pengembangan bio-packaging dan bioetanol. Sementara limbah padat maupun cair hasil pengolahan sagu berpotensi dimanfaatkan kembali menjadi pakan ternak dan sumber energi alternatif seperti biogas.
Menurutnya, pemanfaatan bahan baku hingga limbah produksi secara optimal dapat menciptakan sistem industri berbasis ekonomi sirkular yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Peluang pengembangan sagu Indonesia di pasar internasional juga menjadi salah satu perhatian utama dalam forum tersebut.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan itu, pangsa pasar pati sagu Indonesia di Jepang menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2021, pangsa pasar tercatat sebesar 2 persen, meningkat menjadi 7 persen pada 2022, kemudian 8 persen pada 2023, 9 persen pada 2024, hingga mencapai 14 persen pada 2025.
Peningkatan tersebut memperlihatkan adanya ruang pasar yang semakin terbuka bagi produk pati sagu Indonesia. Namun, untuk memperkuat daya saing internasional, diperlukan peningkatan kapasitas produksi, penguatan industri pengolahan, dukungan investasi, serta penguasaan teknologi agar produk mampu memenuhi kebutuhan dan standar pasar global.
Kementerian Perindustrian pun mendorong terbangunnya kemitraan antara industri nasional dan investor internasional, khususnya Jepang.
“Kami mengundang para pelaku industri dan investor Jepang untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama dengan industri sagu di Indonesia. Kita ingin potensi besar yang dimiliki daerah dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing di pasar internasional,” ungkap Sarmuji.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Putu Juli Ardika, menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengolahan sagu melalui berbagai langkah strategis, terutama peningkatan nilai tambah, penguatan daya saing produk dan pembangunan rantai pasok industri yang berkelanjutan.
Menurutnya, Sagu Business Forum 2026 menjadi wadah penting untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari Indonesia dan Jepang dalam membangun kemitraan usaha, memperluas akses pasar, serta membuka peluang investasi dan transfer teknologi.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 130 peserta, terdiri atas 60 perwakilan dari Indonesia dan 70 peserta dari Jepang yang berasal dari unsur pemerintah, asosiasi, pelaku usaha, peneliti dan media.
Forum tersebut menghadirkan tiga agenda utama, yakni Industrial Forum untuk membahas potensi dan arah kebijakan pengembangan industri sagu, One-on-One Business Matching sebagai ruang pertemuan langsung antara pelaku usaha Indonesia dan calon mitra Jepang, serta Sagu Product Showcase sebagai sarana promosi produk olahan, potensi daerah dan hasil inovasi pengembangan sagu.
Dalam agenda Sagu Product Showcase, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, turut ambil bagian bersama Kabupaten Seram Bagian Timur, Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Lingga.
Keikutsertaan Meranti dalam forum berskala internasional ini menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan identitas daerah sebagai salah satu sentra penghasil sagu sekaligus memperluas jaringan kerja sama industri.
Putu berharap, pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan komunikasi bisnis, tetapi juga dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang dalam perdagangan, investasi, pengembangan produk dan transfer teknologi.
Bagi Kabupaten Kepulauan Meranti, momentum Sagu Business Forum 2026 diharapkan menjadi pintu masuk bagi terwujudnya kerja sama yang lebih konkret. Dukungan pemerintah pusat, kehadiran investor, serta kesiapan industri pengolahan daerah menjadi faktor penting dalam mendorong sagu Meranti memiliki daya saing di pasar internasional.
Langkah tersebut sekaligus mempertegas arah pembangunan ekonomi daerah berbasis potensi lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, komoditas sagu bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Meranti, tetapi juga berpeluang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah.***












