MITRAPOL-ID- RANGSANG — Musibah datang tanpa pernah meminta izin. Dalam sekejap, api menghanguskan rumah, menghilangkan harta benda, dan meninggalkan duka bagi sebuah keluarga. Namun di tengah kehilangan itu, ada sesuatu yang tidak ikut terbakar: persaudaraan.
Pesan kemanusiaan itulah yang terlihat ketika keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) Kepulauan Meranti hadir memberikan dukungan kepada Alif, salah seorang Sahabat Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kecamatan Rangsang, yang menjadi korban kebakaran di Desa Dwi Tunggal.
Rumah milik Alif terbakar pada Sabtu (22/8/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan keluarga korban kehilangan sejumlah harta benda dan harus kembali menata kehidupan setelah tempat tinggal serta berbagai barang milik mereka dilalap api.
Hampir tiga pekan setelah musibah itu, Sabtu (12/9/2026), rasa kepedulian tersebut diwujudkan melalui kunjungan langsung jajaran Pengurus Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepulauan Meranti bersama unsur NU ke kediaman korban.
Kehadiran mereka membawa pesan sederhana namun kuat: seorang sahabat yang sedang diuji tidak boleh merasa sendirian.
Rombongan tersebut dihadiri Ky. Muhammad Shodiq, S.Pd., Wakil Ketua PW GP Ansor Riau; Muhammad Taufik, M.Pd., Ketua LDNU Kepulauan Meranti; Fuji Rizqiono, S.E., Kasatkorcab Banser Kepulauan Meranti; H. Ulya, Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Rangsang; serta jajaran pengurus GP Ansor dan Banser Kepulauan Meranti.
Tidak hanya menyerahkan bantuan, rombongan juga meluangkan waktu untuk duduk bersama keluarga korban, mendengarkan kondisi mereka, sekaligus memberikan penguatan agar tetap tabah menghadapi ujian.
Ketua PC GP Ansor Kepulauan Meranti, Muttaqin, ST, menegaskan bahwa kunjungan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menyerahkan bantuan.
Menurutnya, kehadiran para sahabat merupakan bentuk silaturahmi sekaligus wujud empati terhadap kader yang sedang menghadapi musibah.
“Beliau adalah sahabat kita. Kita bersilaturahmi dan turut merasakan kesedihan yang beliau alami. Kita yakin ini adalah kersane Gusti Allah,” ujar Muttaqin.
Ia menegaskan, persaudaraan tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan. Ketika seorang sahabat menghadapi kesulitan, kepedulian harus hadir dalam bentuk tindakan nyata.
“Kami peduli dan akan selalu bersinergi bersama-sama untuk para sahabat, terlebih bagi mereka yang sedang diuji Gusti Allah,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian, PC GP Ansor Kepulauan Meranti menghimpun donasi dari para sahabat Ansor-Banser serta warga Nahdliyin di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Muttaqin juga menyampaikan permohonan maaf karena bantuan tersebut baru dapat disampaikan pada kesempatan itu. Sebelumnya, jajaran PC GP Ansor Kepulauan Meranti tengah mendampingi para kiai dalam mengikuti agenda Muktamar PBNU di Jombang.
Penguatan kepada keluarga korban juga disampaikan Rais Syuriyah PCNU Kepulauan Meranti, Ky. Muhammad Dalhar.
Ia mengajak keluarga untuk tetap bersabar dan menerima musibah tersebut sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT, seraya meyakini bahwa setiap kehilangan memiliki hikmah.
“Setiap kejadian, apa pun itu, semoga Allah mengganti apa yang telah raib dengan yang lebih baik, manfaat, barokah dan maslahat. Apa yang telah hilang dari hidup kita sebagai penghapus dosa dan kesalahan, dikifaratkan dan dihapus dosanya oleh Allah SWT,” tutur KH. Muhammad Dalhar.
Pesan tersebut menjadi penguat bahwa musibah tidak boleh memadamkan harapan. Kehilangan harta benda dapat menjadi ujian berat, tetapi dukungan keluarga, sahabat dan masyarakat dapat menjadi energi untuk kembali bangkit.
Solidaritas keluarga besar NU Kepulauan Meranti kemudian diwujudkan melalui bantuan yang berhasil dihimpun.
PC GP Ansor Kepulauan Meranti menyerahkan bantuan sebesar Rp10.950.000, PCNU Kepulauan Meranti Rp4.850.000, sedangkan MWC NU Kecamatan Rangsang menyerahkan Rp9.000.000.
Jika digabungkan, total bantuan yang diserahkan mencapai Rp24.800.000.
Bantuan tersebut juga dilengkapi bingkisan pakaian yang diberikan para sahabat GP Ansor untuk keluarga korban.
Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban keluarga Alif dalam memenuhi kebutuhan setelah kehilangan sejumlah harta benda akibat kebakaran.
Namun, bagi keluarga korban, nilai bantuan tersebut tentu bukan hanya terletak pada nominalnya.
Ada makna yang lebih besar dari itu.
Ada tangan yang datang ketika mereka membutuhkan. Ada sahabat yang duduk bersama ketika kesedihan datang. Dan ada persaudaraan yang tetap berdiri ketika sebagian kehidupan mereka runtuh akibat api.
Ketika Api Padam, Kepedulian Justru Menyala
Kebakaran mungkin telah meninggalkan puing-puing dan kehilangan. Tetapi dari musibah itu pula, terlihat bahwa nilai persaudaraan masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.
Apa yang dilakukan keluarga besar NU, GP Ansor dan Banser Kepulauan Meranti menjadi gambaran bahwa organisasi bukan hanya tentang struktur kepengurusan dan kegiatan formal.
Lebih dari itu, organisasi adalah tentang kehadiran, kepedulian dan keberanian untuk berdiri bersama ketika salah satu anggotanya sedang berada dalam kesulitan.
Rumah boleh terbakar.
Harta benda boleh hilang.
Tetapi persaudaraan tidak boleh ikut padam.
Karena ketika seorang sahabat diuji, sahabat lainnya hadir untuk menguatkan. Dan ketika api telah memadamkan sebagian cahaya di sebuah rumah, kepedulian sesama justru menyalakan cahaya yang lain.
Inilah wajah persaudaraan yang sesungguhnya: hadir bukan hanya ketika bahagia, tetapi terutama ketika seorang sahabat sedang terluka.***(Khairul)












