Kisah Inspiratif: Pemuda Indonesia Gendong Lansia Menyentuh Kabah
Di tengah lautan jemaah haji yang memadati Tanah Suci, sebuah kisah mengharukan muncul dari seorang pemuda asal Sebatik, Kabupaten Nunukan, bernama Firmansyah (34). Dengan penuh dedikasi, ia rela menggendong seorang nenek yang terbaring sakit stroke demi mewujudkan impian sang nenek untuk menyentuh dan mencium Kabah. Momen ini terjadi setelah sepuluh hari Firmansyah berada di Makkah, menjalankan ibadah haji yang telah lama dinantikannya.
Firmansyah berangkat ke Tanah Suci tahun ini bersama dua saudara perempuannya. Ketiganya merupakan buah hati orang tua yang mendaftarkan mereka untuk menunaikan ibadah haji sejak tahun 2013. Akhirnya, kesempatan emas itu datang bersamaan di musim haji tahun ini. Salah satu adik Firmansyah, Suci Ramdani (23), bahkan mencatatkan diri sebagai jemaah haji termuda asal Kabupaten Nunukan untuk musim haji tahun ini.
Nenek yang beruntung mendapatkan bantuan Firmansyah diketahui bernama Siti Mahmud Caco, berasal dari Tawau, Malaysia. Selama berada di Makkah, Nenek Siti belum pernah sekalipun merasakan sensasi menyentuh atau mencium Kabah. Keterbatasan fisik akibat penyakit stroke yang dideritanya membuat ia harus selalu mengandalkan tongkat dan kursi roda untuk bergerak.
Perjalanan Penuh Tantangan Menuju Kabah
Kisah ini bermula ketika Firmansyah sedang berbincang dengan dua lansia yang menjadi teman satu kamar hotelnya. Ketika ditanya apakah sudah pernah menyentuh Kabah, Nenek Siti dengan lirih menjawab bahwa ia belum pernah. “Belum pernah nak, karena kaki saya habis stroke. Waktu umrah wajib pun hanya bisa tawaf di tingkat dua karena pakai kursi roda,” ujar Nenek Siti Mahmud Caco dengan nada sedih.
Mendengar pengakuan Nenek Siti, hati Firmansyah tergerak. Ia segera berinisiatif untuk mengajak Nenek Siti, bersama seorang lansia lain yang akrab disapa Macci, menuju pelataran Kabah. Namun, perjalanan menuju Masjidil Haram ternyata tidaklah mudah. Kendala pertama muncul ketika kursi roda yang mereka gunakan tidak bisa dibawa hingga ke area pelataran Kabah.
Akibatnya, Nenek Siti harus berjalan perlahan dengan bantuan tongkatnya. Jarak dari terminal menuju masjid yang diperkirakan sekitar 700 meter terasa sangat jauh dan melelahkan bagi sang nenek. Melihat kondisi Nenek Siti yang semakin kelelahan dan harus berhenti berkali-kali untuk mengambil napas, Firmansyah akhirnya mengambil keputusan besar. Di tengah keramaian jemaah, ia memutuskan untuk menggendong Nenek Siti di punggungnya.
“Di tengah jalan saya gendong karena jalannya sudah sangat pelan. Beberapa kali berhenti untuk ambil napas, tapi Alhamdulillah bisa sampai,” tutur Firmansyah dengan senyum lega.
Momen Sakral yang Tak Terlupakan
Setibanya di Masjidil Haram, rombongan kembali dihadapkan pada tantangan lain. Mereka harus menuruni eskalator dan tangga untuk mencapai pelataran Kabah. Namun, segala perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Di tengah lautan jemaah yang sedang melakukan tawaf, mereka justru mendapatkan kemudahan yang tidak terduga.
“Qadarullah, Allah mudahkan. Nenek dan Macci bisa menyentuh bahkan mencium Kabah tanpa harus berdesakan atau ditarik-tarik orang,” ungkap Firmansyah dengan mata berkaca-kaca.
Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan menyentuh hati bagi seluruh rombongan. Setelah berdoa dan meluapkan rasa syukur di depan Kabah, mereka mengabadikan momen penuh haru itu dengan berfoto bersama. Doa-doa tulus dari kedua lansia tersebut terus mengalir, mendoakan kebaikan bagi siapa saja yang telah membantu mewujudkan impian mereka untuk bisa mendekat ke Baitullah.
Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menunggu waktu salat Asar dan Magrib sebelum akhirnya kembali ke hotel. Menurut Firmansyah, senyum bahagia yang terpancar dari wajah kedua lansia tersebut adalah hadiah yang tak ternilai harganya selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Alhamdulillah, bisa menjadi jalan bagi orang lain untuk mewujudkan keinginannya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua,” pungkasnya dengan penuh harap. Kisah Firmansyah menjadi pengingat bahwa kebaikan dan ketulusan hati mampu menembus segala keterbatasan, bahkan dalam suasana spiritual yang paling sakral sekalipun.
